Ketika Pintu dan Jendela Ditutup Paksa.

Saya dan Bonnie Triyana sementara terlibat sebuah obrolan menyangkut proyek yang sedang saya kerjakan ketika ia tiba-tiba diam dan mengeluarkan sebatang rokok lantas dengan cepat menyulutnya, “omong-omong, saya ini mati-matian bela filmmu di facebook (Baca: Surat dari Praha). Saya jawab semua komen teman-teman yang saya anggap perlu ditanggapi. Buat saya, ibarat orang yang baru selesai koma, bisa bangkit dan melangkah tergopoh-gopoh saja sudah bagus.” Saya senyum saja mendengar itu dan kalimat-kalimat panjang yang menjelaskan upayanya untuk jadi tim hore film yang skenarionya saya tulis itu menguar bersama kepulan asap rokok untuk beberapa menit berikutnya.

Sedikit cerita. Ketika ditandai seorang kawan di Path menyangkut penyitaan terhadap buku-buku kiri, lutut dan lengan saya seketika lemas. Beberapa jam sebelumnya saya baru saja dengan nada kelakar mengomentari soal semakin maraknya larangan kegiatan diskusi untuk tema-tema tertentu. Tak mengapa kita dilarang diskusi, yang penting buku-buku masih bebas beredar, kata saya. Ada kemarahan dan kesedihan yang menjejalkan diri secara bersamaan ketika mengetahui perihal sensor yang dilakukan terhadap buku-buku tanpa dasar jelas dan membabi-buta itu.

Sebagai bagian dari generasi yang tumbuh dan membaca setelah Orde Baru digulingkan, saya merasa patut berterima kasih kepada Reformasi yang memberi ruang yang lebih luas untuk mengakses bacaan/buku-buku yang pada rezim sebelumnya dilarang. Saya berkenalan dengan buku-buku Pram misalnya dari koleksi seorang teman yang pada waktu itu baru kembali dari kuliah di Bandung. Saya yang waktu itu baru saja akan menjalani status sebagai mahasiswa tersulut semangatnya begitu mengetahui bahwa buku-buku yang diperlakukan teman saya itu sebagai barang mewah itu adalah buku-buku yang pernah dilarang (Arman Dhani mungkin perlu mengulas lagi tentang Hasta Mitra dan Joesoef Isak sebagai sebuah ingatan kolektif mengingat satu paket buku Pram yang Tetralogi Buru sekarang seharga 2-3 Juta di Lapak Buku Bekas). Apa rasanya membaca buku-buku yang pernah dilarang terbit? Dengan berlebihan saya harus bilang rasanya luar biasa bahagia. Perkenalan dengan Pram di sekitar tahun 2004 itulah pintu masuk saya untuk lebih jauh bersentuhan dengan buku-buku berlatar sosialis-komunis. Salah satu novel yang saya jumpai selang beberapa waktu setelah perkenalan dengan Pram dan masih membuat haru ketika membaca kembali hari ini adalah Ibunda karya Maxim Gorky yang juga kebetulan diterjemahkan Pram. Lepas dari memahami atau tidak konteks ideologi yang menjadi latar penulis dan gagasan penulisan karya-karya tersenut, saya harus mengaku terperosok jauh ke dalam tiap kelokan cerita karena merasa tersentuh. Saya tidak peduli waktu itu apa ideologi kedua penulis yang sudah saya sebut di atas. Satu-satunya yang saya terima bahwa kedua penulis tersebut menulis cerita dengan narasi tunggal, kemanusiaan.

Pelarangan-pelarangan yang diterima aktivitas berkumpul dan berdiskusi serta bibit-bibit sensor atas sumber pengetahuan yang terjadi beberapa waktu terakhir ini tak pelak merupakan tamparan keras terhadap kebebasan berpendapat yang belum genap dua dekade kita kecap. Saya teringat akan pernyataan seorang penulis novel dengan tema-tema kritik sosial pada sebuah book fair beberapa tahun lalu betapa minat terhadap karya-karya berbasis kritik sosial sangatlah sedikit padahal kebebasan berpendapat sudah dimiliki. Apa betul sebuah generasi harus mengalami tekanan luar biasa untuk mengasilkan karya-karya yang kritis? Saya berharap jawabannya adalah tidak, tapi juga tidak bisa menyangkali berbagai fakta di belakang karya-karya yang dianggap berbahaya sampai kemudian dilarang. Lepas dari itu, pelarangan terhadap aktivitas berkumpul dan berpendapat serta sensor terhadap buku-buku adalah persoalan yang sudah seharusnya menjadi tanggung jawab semua orang yang merasa berakal sehat, bukan kelompok berbasis ideologi tertentu.

Kesadaran untuk mencari tahu dan menemukan sudut pandang lain menyangkut peristiwa-peristiwa masa lalu adalah dasar saya menggemari sejarah. Menjadi jendela atau pintu untuk lebih banyak orang mengetahui apa yang terjadi merupakan alasasan saya mau menerima ajakan untuk mengerjakan naskah film Surat Dari Praha.

Tulisan setengah curhat ini saya kerjakan karena tiba-tiba teringat orang-orang tua yang saya temui di Praha, mereka yang eks-Mahasiswa Ikatan Dinas dan terpaksa kehilangan kewarganegaraan. Saya ingat tentang ide bahwa ingatan sejarah tidak boleh disortir. Kalimat yang saya sarikan menjadi sepotong dialog dengan bunyi hampir sama. Lalu sebuah wejangan yang lebih panjang yang kira-kira berbunyi, “bila kekuasaan menutup paksa pintu-pintu. Lihat baik-baik, mungkin mereka lupa menutup jendela. Tapi bila mereka juga berkerumun di balik jendela, ingat masih ada lubang angin.” Kalimat tersebut tidak tersedia dalam bentuk dialog dalam film, tapi saya mengenang ini dan mulai merasakan gambaran utuh atas situasi tersebut (sampai di sini saya merasa tak masalah untuk sedikit cengeng dan melankolis).

Fernando Baez membuka A Universal History of The Destruction of Books: From Anciant Summer to Modern Iraq dengan mengutip pernyataan seorang profesor sejarah abad pertengahan di Bagdad:

Kenangan kita tak ada lagi. Tempat lahir peradaban, tulisan dan hukum musnah terbakar. Tinggal abu.

Kalimat tersebut terlontar setelah menyaksikan gedung perpustakaannya dihancurkan. Membaca dan merasakan kalimat tersebut sudah sepatutnya membuat setiap kita yang merasa berakal sehat tergerak untuk melakukan sesuatu ketika pengetahuan mulai dibatasi, juga kebebasan berpendapat mulai diusik. Sederhana saja, anak SD di zaman sekarang juga seharusnya bisa mengerti bahwa gagasan hanya bisa dikalahkan dengan gagasan, pula ilmu pengetahuan dan tidak ada tempat untuk kekerasaan diantara keduanya.

Akhirnya, mungkin tidak ada salahnya bila sekarang kita kembali mengecek ulang pintu dan jendela. Sembari mungkin mulai juga melirik kemungkinan-kemungkinan yang tersedia di lubang angin. Tidak ada salahnya.

Jarak.

Zaman ini adalah zaman dimana manusia tidak lagi peduli terhadap jarak. Sebuah jarak menjadi tidak berarti karena teknologi mampu mempersempit ruang, memperpendek proses dan utamanya menggerakan segala sesuatu dengan cepat. Tidak ada lagi ketegangan yang senyap, tidak ada lagi gairah bersabar menunggu waktu yang tepat. Zaman ini adalah zaman dimana segala sesuatu harus ringkas, dengan landasan paling kokoh; efisiensi.

Bisakah dibayangkan bagaimana bila zaman ini datang lebih cepat, akankah Chairil mampu menciptakan bait dengan kedalaman yang hening, seperti

Tuhan
di pintuMu aku mengetuk
aku tak bisa berpaling.

atau yang digoreskan Amir Hamzah

Aku manusia
rindu rasa
rindu rupa.

Monumen kepasrahan yang dibangun Chairil dan citra spiritual yang digambarkan Amir Hamzah tidak lahir di bawah tudung efisiensi, keduanya datang dari perenungan, dari sebuah keadaan yang mengharuskan hadirnya jarak antara keberadaan diri sendiri dan apa yang dibicarakan. Mungkin Sjahrir tidak perlu bersitegang dengan beberapa orang akibat menanggung beban cinta akan kekasihnya yang berada jauh darinya pada suatu masa bila telah tersedia internet dan aplikasi yang memungkinkan dua orang beradu tatap meski berada di dua tempat berbeda, atau barangkali Budha tidak bisa berlama-lama di bawah sebatang pohon di Bodh Gaya karena ia tak cukup punya hati untuk mengacuhkan followers-nya yang tersesat dan terus berkicau menyudutkannya, menunggu ilham apa yang didapatkannya untuk dijadikan petunjuk.

Bila Tagore hidup di zaman serba cepat seperti saat ini, tentu ia akan kehilangan gelap tengah malamnya dan gagal menulis … di gelap tengah malam, titahkanlah aku berdiri di hadapanmu, junjunganku, untuk menyanyi.

Patut dipertanyakan, apakah teknologi dengan segala akses informasi telah meniadakan jarak seorang manusia atas ketidaktahuan serta ketidakmampuan ataukah justru hanya membentuk sebuah dunia pura-pura dimana seorang manusia mengenggelamkan kesadarannya akan jarak tapi lalu mengkonfersi kecemasan kebentuk yang tidak lagi bersifat personal melainkan terbuka dengan bisa diakses oleh orang lain di dalam lingkarannya.

Di zaman serba cepat ini keterlibatan manusia tidak lagi berbentuk hadir melainkan cukup dengan menjadi ada, sementara selamanya antara ada dan hadir adalah dua hal berbeda dimana setiap yang ada belum tentu hadir dan yang hadir sudah pasti berwujud, bisa dirasa, bisa dibuktikan.

Jarak adalah ruang sebelum lahirnya sebuah pilihan. Dengan memiliki jarak, manusia akan tetap menyadari arti keberadaannya, menemukan arti yang sebenarnya, bukan sekedar menjadi tren dan menjadi arus besar ketergesa-gesaan.

Adanya segala yang berkembang dalam zaman ini merupakan buah dari potensi ketuhanan manusia dan tidak seherusnya manusia berpasrah pada apa yang sebenarnya diciptakannya.

Des Alwi.

Des ada di pantai hari itu, hari ketika kapal Fomalhout muncul di Zonnegat, hari ketika dua orang tuan buangan datang dari Digul dengan delapan koper kayu berukuran besar dan tiga tas kulit yang juga besar. Waktu itu Februari 1936. Des juga berada di pantai, ketika MLD Catalina mendarat dan dua orang serdadu Amerika mendayung perahu karet ke dermaga. Des ada di pantai hari itu, 31 Januari 1942, hari ketika dua orang tuan buangan yang tersohor itu harus angkat kaki meninggalkan tanah buangan. Des ada di pantai hari itu, memutuskan untuk tidak ikut terbang ke Jawa, melepaskan Sjahrir bersama tiga orang saudaranya Mimi, Lily dan Ali, menjadi jalan keluar bagi Hatta atas buku-buku yang tidak mungkin dibawanya saat itu. Des ada di Banda, pada hari ketika Hatta dan Sjahrir tiba, hingga saat keduanya dilepas dengan berair mata oleh seluruh orang kampung.

Des bukan tidak mau pergi bersama kedua oom angkatnya, ia menawarkan diri sebagai solusi atas overweight yang terjadi dan menyebut tindakan itu sebagai upaya antisipasi dibutuhkannya saksi mata bila ternyata dua tokoh tersebut dinyatakan hilang. Jauh di lubuk hatinya, Des memang tidak siap meninggalkan Banda saat itu, ia gentar ketika mendengar Sjahrir memekik “Inilah dia! Inilah saatnya. Semua orang siap-siap, kita akan segera berangkat!”, ia kebingungan saat melihat Hatta berjalan menggendong sebuah tas dan dua karton berisi buku diikuti orang-orang kampung yang bingung. Kelebihan kapasitas itu semacam sihir, semacam mukjizat bagi Des untuk lebih lama berada di Banda, meski cuma empat bulan, ia telah menjadi bagian dari mereka yang menyaksikan seteru antara Jepang dan Sekutu di Pasifik. Dengan 15 gulden di saku dan biskuit pemberian ayahnya, Des memutuskan untuk pergi ke Jawa melalui Ambon menumpang kapal layar satu tiang, membawa diri dan dua karton berisi buku milik Hatta yang terpaksa ditinggalkannya.

Des tidak lagi di pantai, Dai Ichi Tora Maru membawanya pergi ke Jawa. Des tidak lagi di Banda, keberanian membawanya untuk kembali berkumpul dengan Omm Kaca Mata dan Oom Rir. Bila sejarah peradaban adalah sejarah melampaui batas, maka Des adalah bukti dari melampaui batas itu.

Des meninggalkan pantai dan Banda, tapi ia tidak pernah benar-benar pergi, ia mencintai Banda hingga akhir hayatnya, meminta kepada anak dan cucunya untuk dimakamkan di sana setelah wafat. Des tidak menyulap diri menjadi seorang penting, ia telah menjadi penting sejak anak-anak, sejak bau pala dan kisah pelaut-pelaut luar biasa masih menjadi pelangi di langit Banda Neira. Des seorang pejuang, ikut menjadi tokoh dalam peristiwa 10 November 1945 di Surabaya. Des juga seorang Dipolomat, menjadi mediator konflik Indonesia-Malaysia tahun 1963 serta menjadi salah satu tokoh dibalik bersekutunya negara-negara Asia Tenggara. Dan yang tak kalah penting dari semua itu, Des adalah pelaku budaya, seorang sineas, dramawan dan sejarawan, sebab mengapa ada kesan tersendiri selama berada di sekitar rumah Sjahrir yang juga dihuni Chairil Anwar.

Des Alwi sudah tiada, tepat 4 tahun 12 November kemarin, tapi ia tetap di pantai, tetap dijaga datu-datu, menjadi api, membakar pulau.

Ombak.

Di sebuah warung dengan makan dan minum seharga sembilan ribu rupiah, orang bisa menyaksikan sebuah pertunjukan besar, pertunjukan kebahagiaan. Nama pertunjukan itu ombak dan anak-anak adalah aktor yang tanpa perlu menghafal berlembar-lembar naskah atau menemukan esensi dari pertunjukan itu, cukup punya uang dan keinginan, karena anak-anak ini bukan yang dibayar melainkan sebaliknya, bukan yang diminta melainkan membawa diri dengan suka rela.

Di Jakarta, sebuah kampung haruslah memiliki tanah lapang. Sesulit-sulitnya mendapatkan lahan untuk membangun rumah, membangun kamar, membangun ruang untuk memastikan kelangsungan peradaban, sebuah tanah lapang adalah harga mati bagi sebuah kampung, sebab di sana ada proses selanjutnya, ruang pertanggungjawaban berikutnya, ruang tempat anak-anak yang dilahirkan tumbuh, belajar dan berkembang dengan kesadaran, meski pengetahuan dan pengalaman sadar itu harus datang dari sesuatu yang imitasi seperti ombak.

Di sebuah kampung yang memiliki tanah lapang, orang bisa menyaksikan harga sebuah kebahagiaan begitu murah. Saat ketika para pelaku pasar malam datang atau kelompok wahana permainan keliling memasang tenda-tenda serta tiang-tiang pancang yang akan menggerakan komedi putar atau ombak, saat itulah kebahagiaan menjadi sesuatu yang lebih mungkin dibandingkan konsep kesejahteraan yang hamper tidak berlaku bagi mereka yang untuk tidur saja kadang harus bergelut dengan pakaian kering yang belum dilipat, ember-ember, barang jualan orang tua atau paling tidak saudara mereka sendiri yang lebih dari seorang. Ketika wahana permainan seperti komedi putar dan ombak bergerak, waktu akan terasa lebih cepat, dan masa kecil akan gilang-gemilang karena membawa cerita luar biasa untuk masa depan yang menjelang.

Orang bisa membayangkan, ombak yang ada di laut, yang bergerak ke pesisir dan begitu indah seketika menjadi sesuatu yang lebih masuk akal karena dipakai untuk menamakan sebuah wahana yang bergerak persis seperti ombak, persis seperti sebuah sampan yang bergerak di kulit gelombang, bahkan bisa diatur cepat lambatnya, tinggi-rendahnya, semua yang lebih pasti dengan harga beberapa perak.

Bisakah dari warung dengan makan dan minum seharga sembilan ribu rupiah orang merasakan irama kehidupan yang cepat tapi tidak melupakan denyut kehidupan yang semestinya pelan dan pandai merasa? Jawabannya ada di senyum anak-anak ketika ombak reda, ketika mesin dimatikan dan putaran berhenti. Ombak di kampung padat penduduk dengan tanah lapang di Jakarta bukan nama bagi keindahan yang sunyi, tapi bagi kebahagiaan yang riuh, harga bagi masa depan dengan cerita tentang pengalaman masa kanak-kanak.

Menonton Ingatan.

“ … 15 tahun terakhir kota ini seperti kehilangan gairahnya. Hari ini gairah itu tersulut kembali, orang-orang merayakan Beta Maluku yang mungkin telah mereka nantikan bertahun-tahun lamanya.”

Kutipan di atas adalah pesan pendek seorang kawan yang menurut ceritanya sudah sejak pagi blusukan di sekitar Amplaz (Baca: Ambon Plaza) untuk mendapat tiket pertujukan film Cahaya Dari Timur: Beta Maluku. Ia baru tiba dari sebuah perjalanan dan ngotot mendapatkan tiket untuk menonton di hari pertama penayangan. Hari ini orang ramai sekali, cuma ada satu layar dan tiket sudah habis untuk beberapa hari mendatang, katanya.

Saya membayangkan orang-orang berbondong-bondong datang ke Ambon Plaza, membayangkan keramaian yang terjadi di bangunan 4 lantai tempat satu-satunya Bioskop di Kota Ambon berada. Saya kenal benar plaza tersebut, tiap sisinya, tiap pojoknya, saya menghabiskan bertahun-tahun masa remaja di sana, bekerja paruh waktu sebagai penunggu toko pakaian atau membantu bapak yang juga menjadi pedangang di sana. Saya membayangkan wajah-wajah yang saya kenal ikut berada di tengan-tengah kerumunan pengunjung bioskop, mengular dalam antrian panjang untuk menukar tiket. Saya tahu bahwa tiket pertunjukan film Cahaya Dari Timur: Beta Maluku di Ambon telah amblas jauh-jauh hari, dipesan langsung dan untuk film ini, pengelola bioskop memberlakukan aturan khusus. Siapapun boleh menelpon dan memesan tiket berapa banyak pun, kata bapak saya waktu mengabarkan hal tersebut kira-kira seminggu lalu. Saya tidak tahu ini benar atau salah, tapi yang pasti saya senang “Orang-orang di Ambon” merayakan Film ini.

Sebagai sebuah kota, Ambon adalah ruang bagi masyarakat yang terbuka terhadap segala arus budaya. Ambon bukan kota yang ditaklukan tapi dibangun. Sejak awal arus lokal dan arus modernisasi bersisian di Ambon, masyarakatnya merayakan adat istiadat leluhur dan dalam waktu yang sama mengenakan jubah kebesaran bangsa barat; sarapan roti, gemar berkumpul di warung kopi, berpesta dan banyak lagi, sesuatu yang bagi peradaban timur didaulat sebagai suatu bentuk kehidupan modern atau alih-alih diaminkan sebagai kemajuan (tentang ini tentu mudah untuk diperdebatkan, tapi sudahlah). Paragraf ini dimaksudkan untuk menanggapi maksud “kota” dalam pesan pendek yang saya kutip di awal. Bila menonton film di bioskop adalah salah satu ciri masyarakat perkotaan, maka sudah sejak lama orang-orang di Ambon menjadi masyarakat kota. Bioskop sudah tersebar di kota Ambon sejak lama, dalam catatan saya sudah ada sekitar tahun 70-an, bahkan Cinema 21 (yang saat ini menjadi satu-satunya) masuk di Kota Ambon sejak pertengahan tahun 90-an. Bagi sebuah kota di kawasan Indonesia Timur yang terlilit isu ketertinggalan pembangunan, saya kira ini sesuatu yang menarik.

Ambon kota yang molek, berada di dalam teluk dengan jumlah lampu merah di jalan yang tidak lebih dari 10 titik. Bayangkan luas kota yang hanya punya 10 titik lampu merah, tentu tidak seberapa luas. Saya selalu menyebut Ambon sebagai Kampung dalam Kota. Secara administratif adalah kota, sedang pola masyarakatnya lebih dekat dengan pola masyarakat kampung karena luas wilayah yang tak seberapa sehingga masyarakatnya guyub, saling mengenal satu sama lain. Saya pernah menyapaikan kepada seorang kawan bahwa bila seseorang tidak bertegur sapa minimal dengan 5 orang di Ambon, bisa jadi orang tersebut adalah seorang yang baru tiba. Ambon kota yang ramai, tiap orang yang berada di tengah hiruk pikuknya akan merasakan daya hidup yang besar, energi yang meluap-luap. Namun akibat konflik horisontal yang pernah terjadi sempat membuat Ambon berubah jadi kota yang murung, ditinggalkan dan tidak punya gairah lain selain pertikaian dan kekalutan. Saya membayangkan berada di Ambon kemarin (atau hari ini), berada di bioskop dan mengantri tiket film yang bertutur tentang memori kolektif yang mereka miliki, saya tahu ada kebanggaan dan kegembiraan tersendiri di sana. Orang-orang di Ambon telah mengenal budaya menonton film di bioskop sejak lama, telah suka berkumpul untuk berpesta-berdansa dan bernyanyi sejak lama, tapi untuk pertama kalinya mereka datang ke bioskop untuk menyaksikan sebuah film yang bisa diutarakan sebagai sisi sentimentil dari kehidupan mereka (setidaknya setelah film “Cucu” yang pernah dibuat Des Alwi tahun 80-an). Sebuah spekulasi, saya yakin bahwa ini adalah kali pertama pengelola Cinema 21 di Ambon kelabakan menghadapi membludaknya penonton, bukan hanya karena misalnya di jadwal ada filmnya bagus yang diputar, tapi karena film yang sedang diputar tersebut merupakan gambaran kehidupan masyarakat itu sendiri. Cinema 21 pernah tutup selama lebih dari 10 tahun dan dibuka lagi dengan tempat, layar dan interior yang masih sama, dan dengan suasana ruangan yang jauh dari kebanyakan bioskop sekarang itu saya membayangkan keriaan yang sedang berlangsung di sana saat-saat ini.

Saya membayangkan berada di antara kerumunan orang yang keluar dari bioskop di Ambon atau di manapun, saya membayangkan apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka rasakan dan apa yang mereka katakan.

“ Orang mengantri tiket seperti mengantri sembako.” Ujar seorang teman dalam pesan pendek lain. Dan saya tersenyum karena analogi yang dipakai adalah analogi yang ditemukan dari pengalaman semasa konflik. Mengantri sembako ketika masa konflik adalah sebuah peristiwa penting di Ambon, selalu ramai, penuh dan berdesak-desakan. Saya maklum kenapa teman saya itu menggunakan analogi tersebut.

Saya ingat Orhan Pamuk mengutip Ahmet Rasim dalam Istambul “Keindahan suatu tempat terletak pada kemurungannya” dan kemurungan itulah yang digunakan si penulis atau banyak penulis lain melahirkan karya berlatar Istambul. Bila di Ambon atau Maluku tidak pernah terjadi peristiwa yang mengakibatkan kemurungan tertentu, saya kira tak ada pernah ada keramaian Beta Maluku. Saya kira, raut sumringah yang ada ketika memasuki bioskop dan berganti ekspresi campur aduk (haru, sedih senang, bangga dan semacamnya sebagaimana dituturkan orang-orang) sesudahnya adalah bentuk dari satu lagi upaya mengenang dan belajar dari peristiwa masa lalu.

Zaman bergerak dan tugas manusia untuk menandainya. Saya bahagia orang-orang di Ambon atau dimanapun menonton Cahaya Dari Timur: Beta Maluku dan sepakat bahwa perbedaan adalah berkah, sesuatu yang patut disyukuri, bukan dijadikan alasan pertikaian. “Berbeda itu indah. Berbeda itu baik” demikian menurut seorang kenalan aktivis kemanusiaan yang pernah saya kenal ketika masa konflik.

Sunyi.

Saya selalu suka pukul 3 dini hari. Entah kenapa dan bagaimana awalnya, saya merasa dalam komposisi dimana jarum jam membentuk sudut siku-siku inilah perasaan-perasaan ganjil punya lebih banyak peluang untuk dihadirkan. Seorang kawan penyair, Rudi Fofid mengatakan kepada saya; Ajak saya ke terminal atau mall paling ramai di sini, tapi saya akan tetap merasa sunyi. Ajak saya ke pantai paling pelosok, paling sunyi, di sana saya akan merasa meriah. — Saya dan Rudi Fofid di sebuah Mall untuk sebuah urusan waktu itu dan kami terpaksa berbisik-bisik karena suara musik dari panggung sebuah kontes menari terdengar keras sekali, membuat kami tertawa. Sejak pindah ke Jakarta saya memang lebih sering berjarak dengan sunyi, sebab jalan-jalan di Jakarta tidak pernah tidur, lampu-lampu menyala sepanjang malam dan kadang-kadang tetangga lupa mematikan pengangkat audio yang memutar terus menerus lagu-lagu remix. Di Jakarta sunyi bermukin dibalik kemungkinan mengajak tembok bercakap-cakap, menebak-nebak tebal embun di daun atau lalu tiba-tiba disergap pagi. Saya suka pukul 3 dini hari karena di waktu sela antara malam dan pagi inilah nasib menyediakan regu-regu tembak yang tak ragu menghabisi seseorang yang bimbang di hadapan rasa bosan. Sunyi dihadirkan, diadakan, disisip di sela-sela kenyataan yang belum sepenuhnya terjadi. Saya ingat dulu teras rumah di usia saya kira-kira sepuluh tahun, suasana tidak pernah sepi, orang-orang tak pernah pergi. Saya terbangun pukul 3 dini hari, menemukan orang-orang di bawah lampu remang-remang membereskan segala yang tercecer di lantai, merakit dan mengujicobakan di siang hari. Siang hari lantai akan berwarna kuning dan mereka yang subuhnya tertidur di teras sudah berlari di jalanan, memikul tas dan gembolan. Kadang mereka kembali, kadang tinggal cerita, kadang hilang nama, tapi teras rumah tetap ramai dan sejak itu saya menemukan sunyi pada pukul 3 pagi, pada hidup yang mengalir ke nampan nasib, tumpah jadi laut.

Saya selalu suka pukul 3 dini hari, waktu ketika pagi masih puisi dan masihbisa dianggap tahu diri.

Tinggikan!

Aku dibesarkan oleh angin dan gelombang

Aku dibesarkan oleh api dan batu karang

Amin Maalouf menulis pada bab-bab pembuka In the Name of Identity; Identitas tidaklah terberi sekali untuk selamanya, ia dibangun dan berubah sepanjang kurun hayat seseorang. — Pernyataan ini ditulis Maalouf untuk menegaskan potensi yang disandarkan kepada fakta bahwa selain faktor bawaan lahir, terdapat begitu banyak kondisi yang bisa mempengaruhi identitas seorang manusia. Budaya, agama, status sosial, ideologi, kondisi politik tertentu adalah beberapa diantaranya. Dalam bab pembuka yang lain, Maalouf menulis kita semua mengira paham apa makna kata itu (baca: identitas) dan terus mempercayainya, bahkan ketika dengan culasnya ia mulai mengatakan yang sebaliknya. — Identitas menurut saya adalah nama bagi sekelumit komposisi yang menjelaskan perihal asal muasal, orientasi dan sedikitnya kondisi seseorang pada suatu masa atau keadaan tertentu. Dalam pemahaman paling liar, identitas bisa disamakan sebagai klaim, nama lain untuk mejabarkan sebuah “aku” yang hidup dalam diri seorang manusia atau kelompok. Identitas bergerak, berubah dan manusia menjadi penentu utama gerak perubahan, namun pada saat yang bersamaan pula di sisi yang lain manusia juga dengan sadar mengkonstruksikan nama-nama, peristiwa, kepemilikan dan lain sebagainya atas nama ingatan identitas, meletakan batas koridor dan menentukan arah kiblat. Sebagai narasi utama peradaban manusia, identitas merupakan produk budaya yang meletakan konflik sebagai pemicu sekaligus pamacu. Identitas adalah persoalan manusia modern, demikian menurut seorang kawan.

Bagian pembuka postingan ini adalah bait pembuka lagu “tinggikan”, lagu soundtrack untuk film Cahaya Dari Timur yang dikomposisikan dan dinyanyikan oleh Glenn Fredly. Dalam sebuah kesempatan Glenn menceritakan kepada saya perihal “menangis”-nya seorang anak muda Papua ketika lagu tersebut diperdengarkan untuknya. Saya sadar betul bahwa obrolan saya dan Glenn pada saat itu sedang mengerucut pada “ketidak-sejahteraan” turun temurun yang dikecap lebih banyak orang di kawasan Indonesia Timur. Benar bahwa angka kesejahteraan di banyak daerah selain Indonesia Timur juga masih sangat memprihatinkan, tapi lalu kemudian kami bersepakat bahwa kondisi di bagian Timur Indonesia harus lebih mendapat panggung untuk dibicarakan, satu hal di antara beberapa hal lain yng menjadi dasar pengerjaan proyek cahaya dari timur. Mengapa anak muda Papua itu menangis? Saya pulang dengan pertanyaan remeh itu, mendengar berulang kali lagu tinggikan dengan kesadaran mencari celah untuk dijadikan jawaban. Ketika pertama kali mendengar lagu tinggikan, saya betul-betul sadar bahwa kreator lagu sedang mengintrepetasi-mengkomposisikan sebuah lagu untuk mewakili kebutuhan cerita film. Pantai, hangat persaudaraan dan rasa kemanusiaan, tiga hal yang saya terima ketika pertama kali mendengar. Dalam kesadaran mencari jawaban, ketigaa perasaan itu kemudian berkembang menjadi haru, menjadi sentimentil, menjadi sebuah kultus yakin bahwa lagu tinggikan membicarakan dengan baik tentang identitas, lokalitas dan semangat mengubah keadaan.

Ayahku adalah sang matahari dan ibuku rembulan.

Berdiri, kumelangkah dan kuberlari merebut masa depan

Di atas fakta bahwa sebuah identitas memiliki kemungkinan besar untuk dipolemikan, saya percaya bahwa “identitas” adalah benteng terakhir yang dimiliki manusia untuk bersikap kritis dalam memilah sekaligus memilih apa yang harus dimilikinya. Glenn mengunakan padanan kata “Merebut Masa Depan”, sesuatu yang dengan berlebihan saya sebut sebagai upaya membalikan keadaan atas sesuatu atau apapun yang telah dirampas sebelumnya.

Lagu tinggikan adalah lagu semangat, lagu yang bisa hidup dalam diri semua orang. Bila Maalouf menarasikan kejatuhan dan kebangkitan sebuah bangsa dalam polemik besar identitas, saya kira Glenn Fredly juga sedang melakukan hal yang sama, sedang menyebar sebuah peringatan lewat lagunya, sesuatu yang bisa membuat siapapun tiba-tiba tertegun dan tersadar bahwa dirinya seringkali telah jauh keluar dari “diri sendiri” atau dari “akar” tempat di mana ia berasal.

Kita telah dilahirkan lebih dari pemenang … Tinggikan!

Maalouf menyebut segala perbedaan dalam dirinya sebagai apa yang membentuk “otentik” dalam dirinya, sesuatu yang juga termaktub dalam lagu tinggikan, ajakan reflektif, ruang untuk membuka alasan yang lebih kuat dari bicara tentang perbedaan; alasan-alasan hidup bersama, rukun dan tumbuh jadi pohon-pohon tua yang rindang.

Tinggikan!